Berbagi Pengalaman Di Jepang (1)

japan-11

Text Box: Di Depan Istana Shogun Di Nagoya Jepang (Penulis Berada di Tengah)

Jepang, siapa sih yang tidak tahu tentang Negara yang berada di Asia Timur ini. Negara yang terkenal dengan julukan ‘matahari terbit’ atau negeri sakura ini begitu familiar di telinga penduduk dunia, termasuk Indonesia. Negara Jepang oleh masyarakat Indonesia khususnya, dikenal dengan peradabannya yang maju, technologinya yang tinggi, orang-orangnya yang disiplin, jujur, bersih dan seabrek opini positif lainnya. Oleh sebab itu, wajar apabila sebagian besar masyarakat Indonesia memimpikan untuk bisa mengunjungi Negara ini dan mereka menganggap sebagai sesuatu keberuntungan apabila berkesempatan pergi ke sana.

Dari sekian banyak rakyat Indonesia, mungkin bisa dikatakan saya salah satu yang beruntung, karena saya mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi negeri ini, walaupun hanya 6 bulan saja. Banyak sekali pengalaman yang berkesan, baik itu pengalaman yang mengagumkan, menjengkelkan, menggelikan, mengharukan dan menyedihkan selama saya berada di sana.

Bekerja di Perusahaan Jepang

Awalnya, ketika saya masih bekerja di salah satu perusahaan di Bogor, paman saya yang berdomisili di Cikampek menghubungi saya dan menginformasikan tentang lowongan kerja di salah satu perusahaan Jepang yang berada di kawasan industri Indotaisei sebagai staff produksi. Atas pertimbangan jarak yang lebih dekat dengan rumah dan tentu saja tawaran gaji yang lebih besar, akhirnya dengan berat hati saya pun melepas pekerjaan saya di Bogor, walaupun boss saya pada waktu itu merasa keberatan.

Singkat kata, setelah melalui proses interview, resmilah saya menjadi karyawan di perusahaan Jepang tersebut, dengan status karyawan percobaan. Dengan asumsi setelah 3 bulan, apabila kinerja saya bagus, maka saya akan diangkat menjadi karyawan tetap. Pada pertengahan tahun 2002, tepatnya bulan Juli, setelah menempuh masa percobaan selama 3 bulan, saya pun resmi menjadi karyawan tetap perusahaan Jepang tersebut dengan jabatan Wakasie Produksi. Pada awalnya saya merasa kaku, karena latar belakang pendidikan saya di manajemen pertanian, bertolak belakang dengan deskripsi pekerjaan yang dihadapi, tetapi atas usaha yang sungguh-sungguh dan motivasi dari teman-teman, akhirnya saya bisa menguasai pekerjaan yang dibebankan kepada saya.

Mendapat Kesempatan Training Di Jepang

Pada pertengahan September 2003 atau 2 bulan setelah masa pernikahan (saya menikah bulan Juli 2003), saya mendapat tawaran dari Manajer HRD untuk mengikuti training yang diselenggerakan oleh AOTS (Association Overseas for Technical Scholarship) yang merupakan lembaga beasiswa yang berada di bawah METI (Ministry of Economic Trade and Industry), yakni kementerian ekonomi, perdagangan dan industri Jepang selama 6 bulan, yang diselenggarakan pada 13 Januari 2004 sampai dengan 13 Juli 2004 .

Singkat kata, setelah saya mendapatkan izin dari orang tua dan istri serta semua syarat dan perlengkapan dipersiapkan, baik itu kepengurusan passport, visa dan biaya secukupnya, pada tanggal 13 Januari 2004 saya pun tack off dari bandara Soekarno Hatta, dengan menggunakan pesawat Singapore Airlines menuju bandara Kansai di Jepang. Setelah melalui perjalanan udara selama + 8 jam, saya dan rombongan (berjumlah 4 orang) menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Jepang. Ketika saya keluar dari pesawat terbang, hawa yang pertama kali terasa adalah dingin yang menusuk tulang, karena pada waktu itu di Jepang sedang musim dingin, suhu tertinggi di siang hari pun berkisar antara 5°C – 12°C dan pertama kali pula saya melihat hujan salju yang selama ini hanya bisa disaksikan di televisi, sungguh pengalaman yang tak terlupakan.

Selepas makan siang, saya dan rombongan bergegas menuju tempat pelatihan bahasa jepang, yakni Kansai Kenshu Centre (KKC) untuk mendapatkan pelajaran bahasa jepang dasar dan kaiwa selama 6 minggu.

Belajar Bahasa Jepang

Sudah menjadi keharusan setiap trainee di Jepang, sebelum melakukan praktek kerja di perusahaan, mereka di wajibkan mengikuti pelatihan bahasa jepang yang diselenggarakan oleh pemerintah Jepang. Saya dan rombongan mendapat kesempatan belajar di KKC , tepatnya berada di kota Osaka provinsi Kansai (Kansai Ken). Seperti system pendidikan Jepang pada umumnya yang kompetitif dan aplikatif, pelatihan bahasa Jepang di KKC juga sangat kompetitif dan aplikatif. Setiap hari selalu ada saja PR dan Shinken, baik berupa tulisan, pendengaran melalui kaset ataupun melalui situs AOTS, yang semuanya harus dijawab dengan baik.

Dalam percakapan sehari-hari di KKC pun harus menggunakan bahasa Jepang, walaupun kita masih belepotan tetapi harus dipaksakan.

Ada pengalaman menarik ketika saya berada di KKC, yaitu waktu saya terkena masuk angin, kemudian minta di kerik sama teman saya. Karena semalaman saya tidak bisa tidur, pagi harinya saya menghadap ke kantor untuk tidak mengikuti kuliah, mereka pun mempertanyakan alasannya, saya jawab saya ingin tidur. Mereka pun marah, tetapi saya katakan bahwa saya sakit dan ingin istirahat, mereka tidak percaya begitu saja. Lantas mereka pun mengukur suhu badan saya, dan mereka pun terperanjat, karena suhu badan saya 38,5°C. Kemudian saya pun dibawa ke Rumah Sakit terdekat untuk menjalani pemeriksaan, karena saya diduga terkena SARS (Severe Acute Respirotory Syndrome).

Pemerikasaan di RS sangat detil dan melelahkan, karena saya harus cek darah, ingus, tensi dan seabrek pemeriksaan lainnya. Tetapi setelah mereka mendapatkan hasil laboratorium, akhirnya saya pun dinyatakan terbebas dari SARS.

Ada pengalaman lucu tatkala dokter memeriksa saya, dan melihat goresan-goresan merah di punggung saya, dia bertanya : “daijoubu” saya jawab : “daijoubu desu” saya jelaskan ini adalah obat tradisional Indonesia mengatasi masuk angin, mereka pun tertawa mendengar penjelasan saya, karena mereka anggap goresan-goresan itu menyakitkan. (Bersambung)

Tentang Mahfud Hidayat

Saya hanyalah seorang hamba Allah SWT yang berusaha untuk mencari kerihoan-Nya dan senantiasa ingin belajar dan beramal lebih banyak lagi. Bagi saya kehidupan di dunia hanyalah suatu persinggahan yang sebentar saja, oleh karena itu bantulah saya untuk memperbanyak bekal yang akan dibawa setelah mati nanti.
This entry was posted in Pengalaman Hidup, Umum. Bookmark the permalink.

2 Responses to Berbagi Pengalaman Di Jepang (1)

  1. dani tea says:

    hebat pisan bisa menginjakan kaki di tanah nipon

  2. ah…kaleureusan wae kang dani…
    punteun neumbe di bales…
    nuju sibuk….

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s